11 Maret 2009

RENUNGAN

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah SWT lewat
kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan
mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah;
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua hal pada kalian, Al Qur'an dan As-Sunnah. Barang siapa
mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang
mencintaiku, akan masuk surga bersama-sama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh
menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun
menahan napas dan tangisnya.
Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba...........

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala
itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap
menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik
berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu (rumah) Rasulullah masih tertutup. Sedang
di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam;
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk;
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah;
"Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur
Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Satu-satu bagian wajah putrinya ditatap seolah hendak di kenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan
ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa
Jibril tak ikut menyertai.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril....jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua
surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah
berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik.
Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan
Jibril membuang muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya
Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
" Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajalnya," kata
Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak
tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya;
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku" (peliharalah shalat
dan santuni orang-orang lemah di antaramu).

Di luar pintu.....tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling
berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan;
"Ummatii, ummatii, ummatiii " (Umatku, umatku, umatku).
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kini, mampukah kita mencintai seperti beliau saw ?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.

Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk
mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta
kita......Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Read More......

nasehat

10 NASEHAT IMAM HASAN ALBANNA

Baca-Renungkan-Amalkan





1.. Dirikanlah sholat saat engkau mendengar azan dalam keadaan apapun.
2.. Bacalah al-Quran, telaah isinya, dengarkan, dan berzikirlah kepada
Allah. Jangan gunakan sebagian waktumu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
3.. Bersungguh-sungguhlah untuk berbicara bahasa Arab fusha'. Karena itu
termasuk syiar Islam.
4.. Jangan banyak berdebat dalam hal apapun, karena bersikap hipokrit
tidak akan mendatangkan kebaikan.
5.. Jangan banyak tertawa, karena hati yang maushul kepada Allah adalah
hati yang tenang dan stabil.
6.. Jangan bercanda, karena umat yang bermujahadah tidak mengenal apapun
selain bersungguh-sungguh.
7.. Jangan keraskan suaramu melebihi yang dibutuhkan pendengar, karena itu
akan mengakibatkan serampangan dan menyakitkan.
8.. Jauhi menggunjing orang lain dan melukai tingkah laku orang dan
janganlah berbicara kecuali hal yang baik.
9.. Lakukanlah 'ta'aruf' (perkenalan) dengan saudara-saudara yang engkau
temui meskipun ia tidak menuntutmu demikian. Sesungguhnya pondasi dakwah
kita adalah cinta dan saling mengenal.
10.. Kewajiban lebih banyak daripada waktu. Maka bantulah orang lain untuk
memanfaatkan waktunya. Kalau engkau punya keperluan, maka segeralah tunaikan
kebutuhannya.
Terima kasih

Wassalam.

Read More......